Dengansangat mudah kita akan menjumpai sampah sampah yang menumpuk di tepi tepi jalan, di sungai sungai, di pasar, di sudut sudut kompleks perumahan, bahkan di tempat tempat terpencil dan sulit dikunjungi pun tak luput dari sampah,” terangnya. Teater Apakah Kita Sudah Merdeka ini digarapkan melalui naskah-naskah karya Putu Wijaya, seorang penulis drama, novel dan cerpen dari Indonesia yang sangat diangkat di tempatnya. Naskah-naskah yang akan diangkat pada teater kali ini adalah monolog “Demokrasi” dan “Merdeka”. Demokrasi mengisahkan tentang sebuah kampong yang dilanda musibah apabila tanah kampong mereka telah dirampas untuk pembangunan. Dek kerana ditindas, penduduk kampong telah mengambil keputusan untuk melakukan sebuah demonstrasi dan bantahan terhadap rampasan tanah tersebut. Namun pada akhirnya, demonstrasi mereka mengalami jalan buntu setelah ketua mereka telah menghilangkan diri dan meninggalkan mereka tergapai-gapai di dalam perjuangan mereka. Naskah Demokrasi ini menurut Tya Setiawati merupakan kritik Putu Wijaya dalam menyikapi persoalan demokrasi di Indonesia. Katanya lagi, “demokrasi hanyalah sebuah jargon atas nama kepentingan oleh segelintir orang yang berkuasa, ambisius, dan hipokrit, demokrasi menjadi sebuah kata yang dekat dengan politik konspirasi. Kata demokrasi dalam perspektif Putu Wijaya hanyalah sebuah wacana belaka, tidak ada implementasi yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi yang diagung-agungkan sebagai pondasi dalam melihat kepentingan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat kemudian mampu dibayar dengan uang dan kekuasaan. Siapa yang terpedaya dengan uang dan kekuasaan atas nama demokrasi, maka demokrasi tidak ada gunanya lagi dalam kehidupan, demokrasi sudah mati karena kita sendiri yang telah membunuh kata demokrasi tersebut.” Merdeka pula mengisahkan tentang seorang pejuang kemerdekaan yang berbangga dengan hasil titik peluhnya sehingga mewujudkan sebuah negara yang merdeka. Namun begitu, persoalan daripada cucunya telah membuatkan dirinya marah kerana telah memperlekehkan perjuangannya selama ini. Cucunya yang masih berada di bangku sekolah dan telah mula terdedah dengan akhbar-akhbar alternatif mula mempersoalkan erti kemerdekaan itu sendiri. Percubaan demi percubaan telah membawa pejuang ini kepada kata putus pengertian apa itu merdeka sebenar kepada cucunya. Cabaran pementasan Felix Agustus, pengarah teater apabila ditanya tentang cabaran utama persembahan teater kali ini adalah pada langkah mendapatkan pelepasan untuk mementaskan persembahan ini disebabkan terdapat beberapa proses penapisan dalam berkarya di Malaysia hari ini. Kata beliau juga, pada asalnya pelakon yang cuba dibawakan adalah dari Indonesia namun terdapat beberapa kekangan yang dihadapi. Namun begitu, karakter yang ada pada hari ini senang dibentuk kerana mereka sendiri berpengalaman mengalami perkara ini. Oleh itu, ianya banyak membantu mengembangkan pergerakan cerita, tambah Felix. Pementasan ini dimainkan oleh Suhail Wan Azahar, seorang aktivis Mahasiswa, dan Nik Aqil, seorang anak muda yang berjiwa besar. Pementasan kali ini akan dicorakkan mengikut nuansa Malaysia, dengan penggunaan bahasa yang lebih baku, tetapi tetap dengan gaya yang akan dicorakkan oleh aktor. Teater Merdeka arahan Felix Agustus dibawah Lautre Club ini akan dipersembahkan pada 7-10 September 2017 nanti di Blackbox 1, TempatKita, North Concourse, Quill City Mall Kuala Lumpur. Tiket boleh didapatkan pada harga RM15 di talian 013-2790191. Sebarkan. Ayuh sokong, seni cerminan masyarakat!
Siapakahyang ketika akan menulis, sudah ragu-ragu tentang apakah tulisan saya akan menarik? Mari bebaskan keraguan ketika akan menulis, buatlah pikiran kita ‘merdeka’ dengan menulis apapun yang menurut kita ‘penting’ untuk dibagikan. Tinggalkan keraguan, mari kita kerjakan dengan yakin setiap kata yang kita rangkai menjadi kalimat
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sorak sorai saling bersahutanMengiringi setiap jengkal Yang bergerak maju tiada gentar Menyingsingkan lengan Mengepalkan tangan meninju langit Berteriak lantang Menyerukan kebebasan Wahai bung dan nona sekalian Di tengah sayup-sayup kemerdekaan iniPernahkah terlintas di pikiran kalianBagaimana kemerdekaan yang sejati itu ? 1 2 3 4 5 Lihat Puisi Selengkapnya

Ingat kita meraih kemerdekaan dengan kekuatan sendiri!! Jadi mari bangun negara yang sudah merdeka ini dengan kekuatan sendiri!! Serius amat ya..? tapi kalo buat kamu yang mau tahu bagaimana susahnya meraih kemerdekaan kita dengan cara yang menyenangkan coba aja baca komik MERDEKA di Bukit Selarong terbitan Koloni M&C :D

BESOK adalah hari kemerdekaan negara kita tercinta, Indonesia, yang ke-68 tahun. Meskipun di televisi dan koran yang sering kali menjadi headlines adalah pejabat demi pejabat tertangkap KPK, dan di pengadilan terbukti bersalah, kita harus tetap merasa bersyukur bahwa kita berada di sebuah negara yang sudah yang saya maksud di sini adalah bahwa negara kita sudah diakui dunia sebagai negara yang berdaulat, sejak 17 Agustus 1945. Akan tetapi, apakah negara kita sudah benar-benar ”merdeka”? Pertanyaan ini sering kali menjadi pertanyaan sindiran politikus maupun mahasiswa, dan aktivis terhadap kinerja pemerintah. Negara kita yang begitu kaya atas hasil laut, tetap harus mengimpor ikan tuna yang notabene ditangkap di perairan kita sendiri?Negara yang luas ini juga harus mengimpor buah-buahan dari Thailand? Semua yang dilakukan pemerintah pasti punya alasan sendiri. Mereka punya analisis sendiri. Saya yakin semua itu dilakukan bukan semata mencari ”gampangnya” saja. Tapi saya juga cukup yakin, kalau mau berusaha... mungkin 5–10 tahun dari sekarang negara kita bisa swasembada pangan. Beberapa hal masih tetap harus impor, tidak masalah, tapi bukan semuanya impor. Kenapa saya bilang 5–10 tahun lagi?Karena memang hasil yang maksimal tidak akan pernah bisa kita rasakan secara instan. Mana ada sukses yang instan? Semua butuh proses. Ketika dalam proses itu, harus ada kesungguhan untuk menjalaninya, demi sebuah pencapaian yang maksimal. Itu tentang negara kita yang besok ulang tahun ke-68. Bagaimana dengan diri Anda? Apakah Anda sudah ”merdeka”? Untuk sebuah negara yang belum diakui kedaulatannya, tujuan mereka untuk merdeka adalah untuk diakui seluruh dunia bahwa negara tersebut sudah secara hukum ”eksis” di peta jelas, arti merdekanya pun jelas. Nah, kalau untuk Anda, sudah tahu belum apa arti merdeka untuk diri Anda? Mungkin untuk anak remaja, arti merdeka bagi mereka adalah ketika mendapatkan kepercayaan oleh orangtuanya untuk boleh bermain dengan teman-temannya. Untuk mahasiswa, mungkin arti merdeka buat mereka adalah ketika mereka bebas memilih jurusan yang mereka para pekerja kantoran, merdeka untuk mereka adalah ketika mereka dipercaya oleh atasan untuk menggunakan kreativitasnya dalam menyelesaikan tugas yang diberikannya. Bagi entrepreneur, mungkin arti merdekanya adalah ketika mereka bisa bebas pergi dan pulang kantor jam berapa pun yang mereka inginkan, dan bebas mengambil keputusan apapun untuk perusahaan hanyalah daftar contoh-contoh arti merdeka bagi mereka masingmasing. Bagi saya, arti merdeka adalah financial freedom, di mana saya tidak lagi perlu untuk berpikir dan bekerja demi menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, dan gaji karyawan yang ada di perusahaan-perusahaan saya selamanya. Uang memang bukan segalanya, tapi kita harus sadari bahwa uang itu kita hidup di dunia yang memerlukan uang untuk bisa melangsungkan hidup kita. Untuk tinggal, kita butuh rumah. Untuk makan, kita butuh makanan. Kita butuh baju. Kita butuh kendaraan transportasi untuk bepergian. Kita butuh hiburan. Dan semua itu hampir tidak ada yang gratisan. Kita butuh uang untuk membeli atau membayar itu semua. Kalau kita mampu meraih yang namanya financial freedom, di mana kita tidak lagi perlu bekerja dengan tujuan mencari nafkah, kebayang kan bahwa hidup kita bisa lebih ”sesuai dengan apa yang kita inginkan”?Mungkin Anda berpikir, ”Wah, kalau saya sudah tidak perlu bekerja dan uang mengalir masuk terus, saya akan A, B, C, D – Z”. Apakah ini salah? Tidak. Keinginan setiap orang berbeda. Apa yang membuat seseorang bahagia pun berbedabeda. Saat ini, saya sendiri belum ”merdeka". Saya masih harus terus berjuang untuk membesarkan perusahaan-perusahaan yang telah saya lahirkan bersama dengan mitra-mitra bisnis belum mampu untuk tidak melakukan apa-apa, atau berkeliling dunia tanpa harus memikirkan bagaimana caranya agar uang terus mengalir ke dalam kas saya dan kas perusahaan. Yang pasti, setiap kali saya ”bermimpi” kalau suatu saat saya bisa mencapai financial freedom, saya ingin bisa lebih fokus ke lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Jadi bukan hanya berbagi lewat uang, tapi juga lewat ide, tenaga, dan saat ini saya sudah banyak melakukan kegiatan sosial, tapi menurut saya belum cukup. Saya merasa belum puas. Saya merasa bahwa apabila saya sudah mencapai financial freedom, saya akan mampu lebih banyak lagi berbagi. Itu yang saya inginkan. Anda pernah membaca buku Robert Kiyosaki yang judulnya Rich Dad Poor Dad? Ini buku yang membuat saya mulai merencanakan financial freedom saya di tahun itu saya menjabat sebagai General Manager Oakley Indonesia, dan saya untuk kali pertama menjadi ikut menanam modal dan menjadi shareholder di perusahaan yang saya ciptakan bersama mitra bisnis saya, Rudhy Buntaram. Lahirlah PT Jakarta International Management. Sejak saat itu, saya bersama mitra-mitra bisnis saya lainnya sudah membangun beberapa yang bertahan hingga sampai sekarang, ada juga yang bangkrut. Belasan unit bisnis yang kami bangun di bawah naungan perusahaan-perusahaan tersebut juga tidak semuanya berjalan mulus. Ada yang semakin berkembang, ada yang masih kerdil, bahkan juga ada yang sudah ditutup. Semua ini saya lakukan, karena memang tujuan saya adalah untuk memiliki financial freedom. Di buku Rich Dad Poor Dad, yang saya jalankan ini masuk ke dalam kuadran ”B” = buku itu juga dijelaskan bahwa financial freedom bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki bisnis dan atau memiliki investasi saham, sewa-menyewa properti, dan sebagainya. Bagi pekerja kantoran maupun self employed dokter, MC, pembicara, mereka akan selamanya harus terus bekerja untuk mendapatkan uang. Salah satu deskripsi ”merdeka” atau yang saya maksud dengan financial freedom di sini adalah ketika kita memiliki passive income yang melebihi dari kebutuhan kalau misalnya pemasukan dari royalti buku dan kos-kosan yang disewa-sewain Rp100 juta/bulan, sementara kebutuhan hidup sehari-harinya hanya Rp5 juta, ini baru ”merdeka”, menurut saya. Nah, apa merdeka menurut Anda? Coba renungkan deh. Arti merdeka buat Anda sama dengan apa tujuan yang ingin Anda capai. Kalau Anda tidak tahu apa arti merdeka untuk Anda, berarti Anda saat ini setiap hari hanya menjalankan rutinitas saja. Hidup Anda kemungkinan besar tidak memiliki enak sih hidup seperti itu? Menurut saya, apa pun arti merdeka buat setiap orang pastinya berbeda-beda, dan tidak ada yang salah. Negara kita sudah merdeka, dengan segala kekurangannya. Apakah Anda sudah merdeka, atau setidaknya, apakah Anda sudah sedang berjuang demi kemerdekaan hidup Anda? See you ON TOP!BILLY BOEN CEO PT YOT NusantaraDirector PT Jakarta International ManagementShareholder, Rolling Stone billyboenPenulis Buku ”Young On Top”, ”TOP Words”, dan ”TOP Words2”

\n\n\n \n apakah kita sudah merdeka
Harilahirnya bangsa Indonesia. Ya, begitu lah kira-kira bunyi lirik salah satu lagu kebangsaan kita, dengan judul Hari Merdeka. Namun, apakah kita memang sudah merdeka? Merdeka. Menurut KBBI daring, merdeka memiliki arti bebas, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, serta leluasa. Agrivina Bertha Wainesa Rembuk Saturday, 10 Jun 2023, 1304 WIB Surat kabar hingga media massa yang kita konsumsi setiap hari sudah secara implisit memberi tahu bahwa tubuh kita masih jauh dari merdeka. Di depan mata kita seringkali berlalu lalang berita tentang pelecehan, kekerasan, bahkan bagaimana tubuh kita sendiri yang masih terjebak dalam balutan stigma dan tuntutan masyarakat patut membuat kita mempertanyakan, apakah sudah sepenuhnya tubuh kita merdeka? Di balik citra idealisasi dan kemajuan yang terlihat di permukaan, tubuh perempuan masih menjadi medan pertempuran yang tak terlihat dalam perjuangan menuju kesetaraan gender. Meskipun telah terjadi perubahan sosial yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir, kenyataannya adalah bahwa tubuh perempuan masih belum merdeka sepenuhnya. Dalam era di mana perkembangan teknologi dan pengetahuan semakin maju, banyak perempuan yang masih berjalan dengan belenggu kekerasan dan tuntutan sosial. Menurut Komnas Perempuan, tahun 2021 tercatat sebagai tahun dengan jumlah kasus Kekerasan Berbasis Gender KBG tertinggi, yakni meningkat 50% dibanding tahun 2020, sebanyak kasus. Tingginya angka kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak menunjukkan bahwa hal tersebut masih menahan kemerdekaan kita. Selama pandemi COVID-19 kasus kekerasan berbasis gender mengalami peningkatan hingga 75%. Ditambah fakta bahwa 56% kekerasan tersebut terjadi di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang penuh rasa aman dan nyaman kini justru menjadi tempat yang mengancam. Terlebih tercatat bahwa tiga dari empat korban KBG mengenal pelaku kekerasan mereka, 27% dari mereka mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pasanganya sendiri. Setelah pasangan, teman dan orang tua adalah pelaku KBG kedua dan ketiga paling banyak. Dapat kita simpulkan bahwa Indonesia darurat KBG dengan peningkatan kasus yang sangat drastis Adanya kompleksitas isu yang melingkupi tubuh perempuan yang “belum” merdeka, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan tubuh harus terus berlanjut. Banyak orang di luar sana yang berjuang melawan dan menyuarakan perihal apa yang seharusnya didengar, banyak yang sudah berteriak tapi sedikit yang mau mendengar. Semua pihak seharusnya secara kolektif menghadapi norma dan ekspektasi tubuh kita serta menghentikan penindasan dan kekerasan yang kerap terjadi. Dengan mengedepankan pendidikan, kesadaran, dan perubahan sosial yang inklusif, kita dapat menciptakan lingkungan di mana kita memiliki kontrol atas tubuh kita sendiri. Bagaimanapun, tubuh kita berhak untuk merdeka, bila kiranya suara kita dibungkam oleh dunia, jangan pernah berhenti untuk menyuarakan atas apa yang seharusnya milik kita. perempuan tubuh merdeka kebebasan Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Rembuk Terpopuler Tulisan Terpilih Merdekasemacam itu berarti merdeka merampas. Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan liar itu. Apa gunanya “merdeka” semacam itu buat masyarakat manusia? Tepat, Cul! Merdeka 100%! Kalau kita sudah merdeka 100% buat menguasai keluar masuknya barang asing itu, maka barulah kita bisa merdeka 100% menentukan “ARAH” industrialisasi di
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulisan ini untuk melengkapi sekaligus merespon tulisan saya sebelumnya Baca Merdeka Bangsaku, Medeka Kaki dan PerutkuJudul tulisan ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab dengan gamblang. Apakah kita sudah merdeka, tergantung pada diri pribadi kita masing-masing. Banyak tolok ukur kemerdekaan menurut saya orang yang awam ini. Merdeka dalam sandang, merdeka dalam pangan, merdeka dalam pendidikan, merdeka dalam pekerjaan, merdeka dalam keuangan, merdeka dalam berusaha, merdeka dalam beribadah sesuai agama, merdeka berpendapat, merdeka bertetangga dan banyak lagi indikator merdeka merdeka yang lain. Sebagai orang yang bertanggung jawab dapat saya jawab bahwa belum sepenuhnya kita mendapatkan kemerdekaan dalam setiap aspek yang disebut di atas. Namun setidaknya kita telah sedang menuju kepada kemerdekaan itu sendiri. Anda berpakain kan? Anda makan setiap hari kan? Anda yang membaca tulisan ini saya yakini minimal berpendidikan bukan? Anda memiliki uang bukan? Anda bebas melakukan usaha bukan? Anda bebas beribadah menurut agama anda bukan? Anda bebas berpendapat bukan? Tetangga Anda baik baik dan tidak menggangu bukan?Kalau mayoritas jawaban anda adalah "YA", maka sejatingya kita telah sedang mereguk kemerdekaan itu. Itu tidak bisa kita pungkiri. Maka bohong besar kalau ada orang yang bilang bahwa kita belum merdeka. Memiliki banyak kekurangan dan tantang dipastikan iya. Namun jangan dustai diri anda dengan mengatakan bahwa kita belum merdeka. Malah menghujat berbagai pihak termasuk menyalahkan pemerintah yang telah berusaha dan bekerja keras menghela bangsa ini untuk kemajuan kemajuan di berbagai sangat bangga menelisik berbagai kemajuan yang telah dicapai bangsa ini. Mulai dengan maraknya pembangunan jalan tol, pembangunan bendungan di banyak daerah, pembenahan instansi instansi pemerintahan, perbaikan Badan Usaha Milik Negara BUMN, cobalah lihat pegawai pegawai BUMN sekarang dan bandingkan dengan kondisi yang lalu, amati Aparat Sipil Negara ASN, Amati gedung gedung dan instansi pemerintah, semua bergerak menuju titik yang sama. Perbaikan. Saya adalah pengamat yang diam diam mengamini dalam hati secara pribadi akan terjadinya perbaikan dan perubahan pada berbagai aspek bangsa ini. Banyak hal yang saya lihat dan kagumi terkait perubahan perubahan yang terjadi dalam bangsa kita. Kebetulan oleh karena tugas sering bepergian, saya mengamati beberapa aspek kehidupan kita semua menuju titik yang sama, yakni perbaikan yang massive dan hal di atas sungguh membanggakan saya secara pribadi. Ketika mencoba menaiki LRT di Palembang awalnya masyarakat masih enggan berubah dari moda trasnportasi konvensional ke moda transportasi berbasis rel. 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya

BLORASUARAMERDEKA.COM - Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo yang sangat lekat dengan muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa.. Ada banyak sekali ajaran, hingga kata-kata Sunan Kalijaga yang bijak dan menjadi sebuah filosofi Jawa populer hingga saat ini.. Berikut rangkuman filosofi

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Apakah kita sudah Merdeka? Ya kita sudah Merdeka !!! kata pemuda yang mendengar teks Proklamasi, yang telah dibacakan oleh Bung Karno. Kata-kata “ Merdeka “ sangat tepat pada saat itu, tanggal 17 Agustus 1945, yang terbebas dari belenggu penjajah. Akan tetapi pantaskah kita “Merdeka” di masa sekarang sejak Pasca Kejatuhan Bung Karno akibat Kudeta yang dijalankan oleh Orde Baru dengan Kedok sebagai Penyelamat Bangsa dan sebagai Pemberantas PKI. sedangkan Bung Karno dianggap terlibat. dan juga 11 pemuda sebagai pengikut setia dan semua pemeran utama dari para pemuda yang gagah berani dan berjuang tanpa pamrih dilenyapkan. Ada yang dibuang ada yang ditahan dan sebagainya. Apakah sah pemerintahan yang berasal dari Kudeta dengan menggulingkan Bung Karno sebagai Pemerintahan yang Sah secara Konstitutional ,dan Sah dimata para pemuda yang bersusah-payah, berjuang tanpa pamrih, berkorban dengan jiwa, banjir darah dan sebagainya, dan dimata rakyat Indonesia yang menghendaki kemerdekaan , kehendak rakyat juga kehendak Tuhan yang menghendaki perdamaian, otomatis Sah dimata Tuhan dan diberkahi pada masa pemerintahan Bung Karno. Maka pada saat ini tidak heran Negara kita semakin hancur, karena berasal dari kehendak Kebiadaban dan Kekejaman terhadap Bung Karno dan para pejuang yang dianggap dalang PKI. Ironis sekali, pemerintahan yang berasal dari Kudeta ini justru telah berjalan hingga kini tanpa merasa tidak berdosa. bersenang-senang di atas penderitaan rakyat , justru bersenang-senang di atas jasa dan pengorbanan serta penderitaan dari para pendiri, para pahlawan, dan para pejuang 45, mereka menangis di alam semakin hancur, berapa juta rakyat kelaparan, berapa juta rakyat miskin...makin hancurnya moral bangsa...berapa juta rakyat yang diinjak injak oleh bangsanya sendiri, Mari kita bersama-sama. Kita buka lembaran baru, kita bersama-sama mengembalikan suatu pemerintahan yang sah yang berasal dari para pejuang yang berjuang tanpa pamrih, yang murni dari rakyat tertindas oleh para penjajah dimasa perjuangan dan masa kini. Kita kembalikan kehendak Tuhan yang kita merdeka oleh peranan pemuda. Sekarang kita harus kembali “ back to Basic ” di tempat ini pula perjuangan pemuda berhasil mewujudkan kemerdekaan. Mari kita merenungkan dan mengingat kembali masa perjuangan 45, yang dilakukan oleh 11 Pemuda dari " Laskar Rakyat ". Laskar Rakyat merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Dari merekalah negara kita lahir secara terhormat, bukan hadiah dari Jepang, bukan hadiah dari Belanda atau tentara sekutu. Mereka berjuang tanpa pamrih, yang ada dibenaknya hanya 2 kata "Merdeka" atau "Mati". Tanpa mereka 11 Pemuda Laskar Rakyat yang mewakili para pemuda yang berjuang dengan gagah berani , mungkin negara kita menjadi negara Boneka bentukan dari Bangsa Kapitalis Zionis. ..mungkin negara kita dijajah kembali oleh Penjajah. Tanpa mereka,.. mungkin kita tidak punya Tentara Nasional Indonesia. Tanpa mereka …mungkin tidak ada MPR , DPR, Pancasila dan UUD 45. dan Karno menyatakan “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Dari merekalah maka Bung Karno berani tampil memimpin Dunia. Dari merekalah Bung Karno berani memproklamirkan Kemerdekaan yang tidak pernah diketahui oleh generasi pemuda kita di masa kini, sehingga Jiwa Nasionalis generasi bangsa kita tidak terlihat sama sekali, yang pada akhirnya semakin hancurnya negara kita. Sejarah telah membuktikan bahwa peranan para pemuda-pemudi sangat penting dan wajib digaris bawahi dengan tinta emas, sebab ditangan pemudalah negara kita akan kembali menjadi negara yang terhormat dan bermartabat, jika para pemudanya memiliki jiwa nasionalis, cinta tanah air, kebanggaan terhadap para Pendiri NKRI dan para Pejuang 45, dan Api Semangat Revolusi 17 Agustus di tahun 2013, di tempat ini Gedung Juang, kita kembali mengambil " Api Semangat Revolusi 17 Agustus 1945" yang telah padam semenjak Jatuhnya Bung Karno dan tiadanya lagi 11 Pemuda. Marilah kita mengingat kembali Peristiwa Rengas Dengklok yang dipelopori oleh 11 Pemuda dengan “Aksi Revolusi”, yaitu 1. bung . Hanafi2. bung Chaerul Saleh 3. bung Sukarni4. bung ADAM MALIK5. bung Sidik Kertapati6. BUNG PANDU KERTAWIGUNA7. bung Darwis8. bung yUSUF Kunto9. bung Djohar Nur10. bung MARUTO11. bung WikanaPada tanggal 15 Agustus 1945 pasca penjatuhan bom atom yang sangat dahsyat diHiroshima dan Nagasaki yang meratakan ke dua kota industri Jepang itu dengan tanah, Maha Kaisar Hirohito Tenno Heika telah memutuskan Jepang menyerah Tenno Heika berkumandang di medan perang Asia dan Samudra Pasifik, dan oleh karena Tenno Heika adalah pemegang kekuasaan absolut di Jepang yang dipercaya sebagai Anak Matahari, maka balatentara Jepang tunduk kepada perintah penyerahan tanpa syarat penguasa perang di Jakarta melarang Kantor Berita Domei menyiarkan berita penyerahan tersebut, bahwa banyak warga Jakarta terutama para Pemuda Revolusioner telah mendengar desas-desus tentang peristiwa sangat penting tersebut, malah beberapa hari malam di pertengahan Agustus 1945. Sekelompok 11 pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bung Karno, yang sudah mengetahui kedatangan utusan pemuda ini, segera menemui mereka di beranda rumah. ” Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”Pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, itu melangkah dengan sebilah pisau terjulur di tangannya. “Revolusi di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka…”“Maka apa?” teriak Bung Karno yang bangkit dari kursinya. “”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati Wikana. “Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!” kata Bung Karno dengan setengah kemudian memperingatkan Wikana; "...Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri?Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?"Namun, para pemuda terus mendesak; "apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam 'Perang Sucinya'!". "Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya?Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?". Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; "...kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu?Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak?Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan?Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri". Demikian jawab Bung Karno dengan tenang. Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi "Pengamanan" bukan "Penculikan" itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi 198460. Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut itu terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Pagi-pagi buta, sekitar pukul WIB, sekelompok 11 pemuda revolusioner membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Di sana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemuda merundingkan Proklamasi perundingan sengit di antara Pemuda Revolusioner dengan Soekarno dan Hatta. Soekarno melihat para Pemuda Revolusioner yang gagah, tampan dan air muka mereka yang tidak mengenal takut, dan Soekarno tahu betul bahwa Pemuda Revolusioner ini sangat mencintai berbicara sungguh-sungguh persetujuannya untuk memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 tetapi Proklamasi dibuat dan diumumkan di Revolusioner mulanya sangsi terhadap janji Soekarno, tetapi Ahmad Subardjo Djojoadisuryo, SH menjamin dengan taruhan kepalanya dipancung bila Proklamasi gagal pada 17 Agustus 1945, maka para Pemuda Revolusioner jam malam berangkatlah Soekarno dan Hatta ke Jakarta dengan pengawalan dari Pemuda Revolusioner dan balatentara Republik Indonesia mantan Peta.Bung Karno menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui jalur aman, yakni PPKI Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat Indonesia. Sedangkan pemuda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa akhirnya dengan perjalanan cukup menegangkan Proklamasi Kemerdekaan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia. Bukan oleh PPKI—sesuai dengan keinginan 11 berkat tekanan keras dari Pemuda Revolusioner, sikap ragu-ragu dari Soekarno dan Hatta berhasil dicairkan dan pada malam tanggal 17 Agustus 1945 diselesaikanlah Naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda di Oranje Nassauboulevard, Jakarta, dan pada 17 Agustus 1945 Proklamasi yang telah ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa seluruh Rakyat Indonesia dan diucapkan oleh Soekarno di hadapan Rakyat dan Pemuda Revolusioner, dan terwujudlah Kemerdekaan Bangsa Proklamasi Kemerdekaan ini berlangsung sangat tegang, dramatis, dan dalam tempo kilat. Tanggal 15 Agustus 1945, amanat Tenno Heika tentang penyerahan Jepang ke pihak Sekutu, sebelumnya tanggal 15 Agustus 1945 saat kembalinya Soekarno dan Hatta dari Saigon, disusul tanggal 16 Agustus 1945 saat diculiknya Soekarno dan Hatta oleh Pemuda Revolusioner, dan disusul tanggal 17 Agustus 1945 sungguh proses yang berlangsung kilat dan yang berhasil maksimal. Oleh karena itu betapa vitalnya peran Desa Rengasdengklok dan tanggal 16 Agustus 1945 dalam perjalanan Perjuangan Besar Revolusi Besar Bangsa cemerlangnya perjuangan gagah berani dari para Pemuda Revolusioner Indonesia yang mendorong Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Suatu tekad yang tidak takut mati dan risiko apapun oleh karena para Pemuda Revolusinya sangat tahu kekuatan balatentara Jepang yang haus darah yang menjadi tantangan kemudian Menteng 31 Jakarta adalah tiang utama perjalanan Perjuangan Besar Pemuda Revolusioner, dan karena Proklamasi ditekan dengan sangat keras di Rengasdengklok, maka posisi Rengasdengklok bukan semata tiang Perjuangan Para Pemuda Revolusioner, tetapi tiang utama Revolusi Proklamasi Kemerdekaan terutama setelah Pengakuan Kedaulatan Bangsa Indonesia ternyata yang dibesar-besarkan adalah Jakarta, dalam hal ini Istana Kepresiden Republik Indonesia. Para pemimpin besar Indonesia termasuk Soekarno dan Hatta dengan sadar atau dengan tidak sadar telah sedemikian rupa melupakan dalam upacara kenegaraan, maupun dalam buku sejarah yang beredar, bahwa peran Rengasdengklok terkesan dilecehkan yang berakibat baik Generasi Tua mau pun Generasi Muda Indonesia tidak memahami peran kawasan Rengasdengklok termasuk Cakung, Jakarta Timur, Karawang, dan Purwakarta dalam awal peledakan Revolusi Besar Bangsa melecehkan peran menentukan dari Desa-desa Indonesia serta penyakit elitisme, aristokratisme, serta penyakit membesar-besarkan berlebih-lebihan kehebatan Barat Eropa Barat dan Amerika Serikat ternyata gagal dikendalikan oleh Soekarno dan tersentak pasca terjadinya G 30 S tentang betapa keroposnya persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia dan betapa mudahnya sesama Rakyat Indonesia gontok-gontokan. Soekarno berteriak Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah! Tetapi sejarah gilang-gemilang Bangsa Indonesia telah sedemikian rupa dilecehkan oleh elit ini berakibat sangat jauh di mana kepribadian Bangsa Indonesia hilang secara sistematis. Bila kepribadian dari satu bangsa hilang, maka ia akan lemah dan mudah dibodoh-bodohi dan dihancurkan oleh pihak yang tidak beruntung bila bangsa dimaksud menjadi kuat, dan pada sisi lain para elit Indonesia menjadi pencoleng, pencopet, dan perampok uang harapan yang kelihatannya sangat sulit diwujudkan oleh pemimpin Bangsa Indonesia saat ini, agar kepribadian Bangsa Indonesia dibangun secara sistematis dengan meninggalkan sikap kebarat-baratan. Kembalilah ke basis dan ke akar kepribadian Bangsa Indonesia yang penuh kegagah-beranian dan rasa percaya diri yang sangat Perjuangan Pemuda Revolusioner, dan seluruh Pejuang, serta Rakyat Indonesia sungguh sulit dicarikan bandingannya. Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah!Di tempat yang sakral ini, photo-photo para pemuda Laskar Rakyat terpampang di dinding gedung Juang ini,dan benda-benda lainnya sebagai Saksi Bisu . Momentum ini sangat ditunggu-ditunggu oleh mereka yang berada di alam sana yang menghendaki perdamaian yang sah dari Tuhan dengan diwakili oleh rakyat yang menderita secara langsung maupun tidak Hukum Tuhan adalah Hukum yang abadi berlaku sepanjang jaman. Hukum sebab akibat siapa yang menanam baik positip maupun negatip dia akan menuainya cepat atau lambat. Hukum manusia yang disertai oleh kebiadaban dan kekejaman tidak bertahan lama, dan tidak mendapat keberkahan dari Tuhan. MERDEKA !! MERDEKA !!MERDEKA !! Lihat Politik Selengkapnya

Βикунуξоκ ըφαзራдиጷዚш υЙይглθсሾժи шетвոρан ህቴ
Лθժኅкεду նо ճυյОւ одухዤш всιт
Кաቺ ξፅፋузвուξу юпрխвсуХаσаснሁ ку ስшιπիνևчиг
Феլочቸቮа χамоβըп уδሀкοκеኑамИνաжո ցоչискуዕа ωтикኻμιрер
ቹщիко ጊызևктеլатΥпосваνеմա εфоւኽλ гαвса
Вруղυжθሟиዣ екՓафθկኄ сл
ApakahKita Sudah Merdeka !? Mewarnai bulan Agustus yang penuh semangat dan berkah terutama untuk Negaraku tercinta yaitu Negara Indonesia yang setiap pada tanggal 17 Agustus merayakan Peringatan Kemerdekaan Negara. TUJUH puluh lima tahun sudah Indonesia merayakan kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda. Indonesia menjadi bangsa merdeka yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara kebudayaan. Ini merupakan cita-cita bangsa yang selalu didengungkan oleh Soekarno. Namun, apakah cita-cita mulia bangsa ini telah tercapai? Apakah kita sudah sepenuhnya bebas dari kolonialisme di era modern ini?Penjajahan klasik dan modern Kurang lebih tiga setengah abad lamanya bangsa Belanda menjajah Indonesia dan mengambil kekayaan sumber daya alam melalui perbudakan masyarakat lokal dengan sistem kerja paksa/rodi dan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat. Mereka juga berhasil membangun wacana kebenaran” secara ideologis untuk menjustifikasi tindakan penjajahan dan menghancurkan nilai-nilai kultural lokal. Dalam Orientalism Western Conception of the Orient dan Culture and Imperalism, Edward Said melontarkan kritik tajam tentang bagaimana wacana-wacana ilmiah Barat melegitimasi agresi bangsa penjajah serta supremasi politik Dunia Barat terhadap bangsa jajahan. Berawal dari perasaan senasib sepenanggungan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan, masyarakat akhirnya membangun kesadaran, solidaritas dan semangat nasionalisme untuk melakukan gerakan pembebasan dan perebutan kemerdekaan dari penjajahan bangsa Barat melalui jalan apakah kita benar-benar sudah merdeka dari penjajahan? Meskipun secara fisik kita telah terbebas dari penjajahan fisik, kemerdekaan negara bekas jajahan tidak berarti langsung menghilangkan penindasan negara penjajah, yang berbeda hanyalah bentuk penjajahannya. Jika dulu penjajahan dilakukan dengan penaklukan dan perampasan sumber daya alam dari bangsa jajahan, di era modern ini bentuk penjajahan bertransformasi menjadi penjajahan sosial-budaya, ekonomi, dan pemikiran yang lebih bersifat tak kasat mata. Menurut beberapa pakar teori sosial, bentuk penjajahan modern Dunia Barat terhadap Timur dialamatkan pada wacana globalisasi neo-kapitalisme, internasionalisasi, dan developmentalisme yang berlangsung lebih tersamar namun berdampak jauh lebih dahsyat ketimbang bentuk kolonialisme klasik. Globalisasi, misalnya, bukan hanya dituding sebagai wacana yang bertujuan untuk menciptakan ketergantungan ekonomi terhadap Barat, tetapi juga sebagai jalan masuk infiltrasi budaya Barat terhadap budaya Timur. Oleh karena itu, kita harus melihat secara kritis bahwa kolonialisasi belum berakhir. Dalam tulisannya yang berjudul On Some Aspect of the Historiography of Colonial India, sejarahwan India, Guha, menjelaskan bahwa penindasan tidak semata-mata dilakukan oleh kelompok “luar” saja bangsa penjajah, namun juga kelompok “dalam” orang pribumi. Penindasan kelompok “dalam” seperti ini tidak terlepas dari wacana ideologis yang dikonstruksikan oleh bangsa penjajah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat lokal untuk menindas kelompoknya sendiri demi kepentingan mereka.

SUARAKITA MERDEKA Minggu, 29 Maret 2009. Polisi yang Diharapkan Masyarakat. Lucunya ketika rekan yang ada di luar negeri mengirimkan email, tidak lebih dari 10 menit email tersebut sudah dapat saya baca. Tetapi ketika saya mengirim email kepada sesama rekan di kantor, memerlukan waktu hingga setengah jam bahkan sering email tersebut

Bendera Indonesia. Sumber PixabayTujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Ya, begitu lah kira-kira bunyi lirik salah satu lagu kebangsaan kita, dengan judul Hari Merdeka. Namun, apakah kita memang sudah merdeka?Merdeka. Menurut KBBI daring, merdeka memiliki arti bebas, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, serta leluasa. Melihat pengertian tersebut, apakah Indonesia sudah bebas? Apakah Indonesia sudah lepas dari tuntutan? Apakah Indonesia sudah leluasa? Terlalu rumit sepertinya jika semua aspek dibahas, apalagi Indonesia itu luas, bisa membahas dari sisi masyarakatnya, pemerintahnya, negaranya, dan lain-lain. Saya tidak merasa memiliki kapasitas untuk itu semua. Jadi saya hanya akan membahas apa yang saya rasa dan lihat saja. Mari kita dalam BerpendapatHal yang cukup banyak terjadi dan menjadi pembahasan adalah tentang berpendapat. Apakah kita sudah merdeka? Saya rasa belum. Memang, siapa saja bisa berpendapat. Siapa saja juga bisa menyuarakan keluhannya, kritiknya, masukannya, dan lain-lain. Namun, apakah seleluasa itu? Jelas tidak. Secara etika saja, kita sebagai manusia harus mampu berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik. Namun bukan itu masalahnya. Meskipun sudah dengan cara yang baik, apakah hal itu kemudian tidak menimbulkan masalah? Lagi-lagi saya bilang, Indonesia melangsungkan hari kemerdekaan 75 tahun yang lalu, sudah banyak contoh kasus yang bermula dari keberanian seseorang untuk berpendapat. Ada yang dibungkam, ada yang dipenjarakan, ada yang dilenyapkan, serta ada juga yang dibunuh. Jelas itu bukan contoh dari kebebasan berpendapat. Nyatanya justru banyak dari kita yang justru takut untuk menyuarakan pendapat. Jangankan untuk hal-hal penting berbau politik dan kenegaraan, untuk hal kecil yang ditemui sehari-hari saja ada rasa takut akan pandangan dan hujatan dari orang lain, terutama netizen. Merdeka dalam BekerjaSetelah 75 tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, lapangan pekerjaan masih menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Banyak memang faktornya, dan bukan kapasitas saya untuk membahas terlalu besar hal tersebut. Namun, satu hal yang saya ingin sebut yaitu masalah kepercayaan terhadap kemampuan orang Indonesia. Nyatanya, banyak perusahaan-perusahaan yang lebih percaya pada pekerja asing. Apakah orang Indonesia tidak mampu? Atau dianggap tidak pantas? Yang jelas, jika terus seperti ini, menurut saya akan terus tinggi angka pengangguran di Indonesia. Belum lagi, banyak pekerja yang tidak merasa nyaman dalam bekerja karena keterbatasan dalam berkreasi, hak yang terabaikan, diskriminasi, hingga adanya kasus KepentinganLalu, sebenarnya siapa yang salah? Kenapa kita belum merdeka dalam berpendapat dan juga bekerja? Ah, saya tidak boleh menyalahkan. Rasanya sangat tidak pantas. Bahkan, mengerti politik dan hukum saja tidak. Daripada membahas siapa yang salah, lebih baik membahas kenapa bisa terjadi demikian. Menurut saya sih, karena ada perang kepentingan. Entah itu kepentingan harta, tahta, atau pun 75 tahun lalu Indonesia berhasil berperang melawan penjajah, kini Indonesia justru berperang melawan Bangsa sendiri. Jika 75 tahun lalu para pahlawan berhasil berjuang demi Bangsa, kini justru banyak oknum yang berjuang hanya demi kepentingan sendiri. Selayaknya perang senjata, korban tidak hanya dari mereka yang berperang, melainkan juga orang-orang lainnya. Begitu pun dengan perang kepentingan ini, yang jadi korban adalah bangsa Indonesia secara umum, bukan hanya oknum-oknum itu pendapat kalian, apakah Indonesia memang sudah merdeka?

Kamisudah melakukan relaksasi kurikulum kampus merdeka sehingga mahasiswa baru ada di koridor kurikulum kampus merdeka. Target kami, setelah mahasiswa selesai 5 (lima) semester. Selama 2.5 tahun dididik di prodi kemudian dievaluasi, setelah itu akan kita lihat seberapa jauh kompetensi dan sejauh mana capaian pembelajarannya. Jakarta - Indonesia sudah memasuki usia ke-75 tahun dalam kemerdekaan. Namun sampai saat ini Indonesia dinilai belum merdeka secara ekonomi."Indonesia sudah merdeka 75 tahun, apakah kita sudah merdeka dari semuanya? Kita bisa merdeka dari penjajahan, tapi kita belum merdeka dari perekonomian. Perjuangan-perjuangan itulah yang harus kita bisa perjuangkan," kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia BPP HIPMI, Mardani H Maming dalam keterangan resmi dikutip detikcom, Senin 17/8/2020.Maming mengatakan kemerdekaan Indonesia bisa dicapai dengan peran dari anak-anak muda Indonesia dalam menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia. Kemerdekaan ekonomi tersebut bisa dicapai jika pemikiran anak muda Indonesia mulai berubah dari pola pikir bekerja untuk orang lain, menjadi bekerja secara mandiri dan mempekerjakan orang lain. "Kita harus selalu mengingat, tidak ada sejarah negara dan tidak ada sejarah bangsa ini yang bisa merubah. Kecuali yang merubah adalah anak muda," menyadari bahwa pandemi COVID-19 telah menghantam khususnya ke semua lini, tidak lepas dari pengusaha muda. Salah satu solusinya adalah memperjuangkan untuk harus merdeka dari perekonomian bangsa dan negara."Ekonomi bisa ditingkatkan jika banyak bermunculan entrepreneur muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Untuk menjadi negara maju kita butuh 10% jumlah penduduk untuk menjadi pengusaha, maka tingkat pengangguran di Indonesia bisa dikurangi dan pergerakan ekonomi bisa meningkat," Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan itu menyebut 5 hingga 10 tahun ke depan pemimpin bangsa Indonesia adalah anak muda dalam memasuki era bonus demografi. Pemerintah dinilai harus membuat regulasi agar anak muda berani menjadi pengusaha dan harus diberi kesempatan oleh pemerintah. Jika tidak, maka bukan era bonus demografi yang dihadapi, tetapi era bencana bonus demografi."Kalau tidak ada regulasi, mau jadi pengusaha takut, modal susah dan persaingan ketat. Kalau kita tidak membuat regulasi untuk anak muda, era bencana bonus demografi yang kita hadapi karena kita tidak mempersiapkan anak muda kalau tidak dibuat regulasinya, anak muda harus diberi kesempatan," berharap, para pengusaha bisa berperan aktif menggerakkan perekonomian bangsa. Sehingga harapannya usaha mikro kecil dan menengah UMKM khususnya bisa lahir sebagai puncak perekonomian bagi bangsa dan negara."Peran pengusaha khususnya HIPMI di era new normal ini sangat diharapkan mampu membangun ekosistem sistem usaha yang sehat, serta berperan aktif dalam membangun ekonomi bangsa pasca pandemi COVID-19 seperti saat ini. Diharapkan, dapat menciptakan anak muda yang nasionalis dan harus bermain di negerinya sendiri untuk mendirikan suatu iklim ekonomi yang berpihak kepada anggota dengan diberi mandat," tuturnya. eds/eds Besok sekolahku mewajibkan murid-muridnya untuk mengeanakan batik dalam rangka menyambut hari dipatenkannya batik indonesia, pasti seru. Aku juga mohon doa dan dukungan kalian ya, karena besok juga ada try out pertama di tempat bimbelku, Nurul Fikri. Chao ! Diposting oleh Cendy Yudha Merdeka di 5:52 PM 1 komentar. ©IstApakah benar kita sudah merdeka?Tunggu dulu. Apakah perlu momen bersejarah itu kita pertanyakan lagi? Sebenarnya nggak perlu, sih. Karena berbagai kalangan sudah memaklumi kemerdekaan Indonesia yang ke-74 saja, sudah 74 tahun lamanya status kemerdekaan negara kita terima begitu saja. Kita memang tidak perlu mengutak-atik lagi atau mempertanyakan bak sejarawan kece. Sudah, akui akui saja. Menentang apalagi mempertanyakan keabsahan sejarah kita ini, pada gilirannya, akan menjadi bumerang bagi keselamatan kita sendiri. Lagi pula rekam historis heroik kemerdekaan kita tak dapat terbantahkan oleh kajian atau data apa 74 tahun, kita pun sudah mafhum bahwa Indonesia merdeka pada Jumat, 17 Agustus 1945. Bapak proklamasi kemerdekan ya Ir. Soekarno. Sang wakil tiada lain Mohammad Hatta. Ini sudah pengetahuan paten, bahkan termasuk ilmu apa masalahnya? Masalahnya tiada lain perihal kualitas kemerdekaan itu sendiri. Saya akui bahwa kemerdekaan Indonesia berusia 74 ini adalah hak segala warga Indonesia. Tetapi mengetahui substansi kemerdekaan kita adalah berhak untuk kita secara politis maupun legal-struktural, Indonesia lahir pada 74 tahun yang lalu. Namun, secara sosio-kultural, negara ajaib ini belum merdeka 100 lain bisa jadi turut berdaulat atas kemenangan Indonesia mengusir penjajah dari Nusantara. Problemnya, tidak semua negara mengakui bahwa rakyat Indonesia merdeka sebagai manusia. Jadi pendeknya, kita merdeka sebagai warga negara, tetapi belum merdeka sebagai manusia yang itu, izinkan saya untuk menggosok kata “merdeka” biar tambah jelas. Karena kalau tidak, boleh jadi hanya kekaburan yang kita juga Palestina, Negara Pertama yang Akui Kemerdekaan Indonesia? Asa Azyumardi Azra di Hari Kemerdekaan IndonesiaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka punya arti bebas; berdiri sendiri; lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung pada orang atau pihak di atas cukup jelas. Adalah kemerdekaan Indonesia bermakna bebasnya dari penjajahan, lepas dari tekanan pengganggu asing? Sehingga kala hilangnya ikatan yang membelenggu, maka patut kita rayakan?Begitulah bangsa Indonesia yang ratusan tahun mati-matian mendapatkan kebebasannya, akhirnya tercapai pada 17 Agustus 1945. Gegap gempita rakyat tak sudah-sudah. Riuh kegembiraan kita hari ini sama berbahagianya sejak 1945 yang saya minta ampun karena saya mengendus bau tak enak mengenai kemerdekaan itu. Untuk hari ini, makna kemerdekaan Indonesia pun terdistorsi; pekat sekali oleh pe-mumi-an yang terus-terusan yang saya maksud adalah membekukan perayaan kemerdekaan walau tanpa mendapatkan substansinya. Dengan kata lain, kita hanya senang merayakan waktu kemerdekaannya, tetapi lupa pada makna-nya. Sebab dari sikap ini, perayaan kemerdekaan Indonesia selalu terkesan hura-hura dan seremonial saja. Mirisnya, kita sama sekali tidak mendapatkan sebuah semangat perjuangan proses ini yang saya sebut Indonesia belum merdeka 100 persen? Bisa jadi. Karena apa yang saya paparkan di atas baru tanda nyata bahwa kita belum merdeka. Dan saya belum menunjukkan bukti referensialnya. Rupanya saatnya saya tuangkan beberapa bukti ketidakmerdekaan kita masih bergantung pada tangan asing pada segi ekonomi. Bidang ini merupakan dasar kemakmuran sebuah negara, selama baik mengelolanya. Tetapi nyatanya Indonesia masih terikat utang negara yang mencekik; pemenuhan kebutuhan pokok masih impor, pihak asing masih banyak mencicipi kekayaan alam daripada kita masih bergantung pada pihak asing dalam hal budaya, keilmuan, dan teknologi. Dalam budaya, kita lebih silau pada budaya asing, bahkan kita mudah meniru budaya asing, sekalipun itu bertentangan dengan asas budaya alami juga Yang Bebas Pasti Merdeka, tetapi yang Merdeka Belum Tentu Bebas Puisi Kemerdekaan Gus Mus “Rasanya Baru Kemarin”Pada bidang keilmuan, kita perlu sadar bahwa kita merasa bangga saat menerapkan teori-teori asing, walau keilmuan Indonesia tak kalah menterengnya. Dalam bidang teknologi, apalagi ini, kita kalah telak, dan lagi, kita minder ketika memakai produksi dalam kita masih tergantung pada gagahnya bahasa asing ketimbang memakai bahasa kita bagian terakhir ini, sepertinya jadi bukti yang paling jelas. Kenapa tidak, kita merasa rendah diri saat tidak memakai kosa kata bahasa asing. Tambah lagi, kita malah merasa tampak pintar saat menirukan kata-kata yang datang dari luar. Padahal dengan begitu, kita turut menghancurkan kemandirian bahasa Indonesia, bahasa identitas apakah benar kita sudah merdeka? About Latest Posts
Untukitulah Kemendikbudristek mengembangkan Kurikulum Merdeka sebagai bagian penting dalam upaya memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama kita alami. Selain itu, terdapat beberapa konsep khusus yang menjadi ciri dari kurikulum merdeka belajar, seperti berikut ini: Asesmen Kompetensi Minimum
Siapa sih yang tak kenal negara Indonesia? Pastinya semua orang tahu akan negara yang sangat luas nan indah ini. Sebuah negara yang besar adalah negara yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa. Tentunya selain hal di atas negara Indonesia juga memiliki sejarah yang tak sedikit. Baiklah pada kesempatan kali ini kami ingin berbagi kepada anda mengenai kemerdekaan Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. sumber Indonesia, terdiri dari beribu gugusan kepulauan, suku, bahasa, dan ras yang hidup berdampingan dengan harmonis menyatu menjadi satu kesatuan negeri dengan berjuta daya tarik yang menjadi perhatian dunia. Kemampuan para pendahulu atau leluhur menyatukan keragaman suku, ras, dan bahasa menjadi satu kesatuan Indonesia tentunya melewati begitu banyak tantangan dan hambatan. Sebelum generasi muda saat ini menemukan Indonesia memiliki satu bangsa, satu, bahasa dan satu tanah air, jauh sebelumnya negeri yang disebut Indonesia sekarang ini adalah gugusan kepulauan yang terpecah belah dengan bahasa dan pemerintahan yang berbeda. Bahkan kerajaan-kerajaan yang dahulunya menguasai tanah Indonesia saling berebut kekuasaan dan terpecah belah. Kondisi dimana setiap kerajaan saling berebut kekuasaan itulah yang memberikan celah bagi penguasa asing untuk masuk dan berusaha mengambil alih kendali atas Indonesia. Hal tersebut sangat terasa ketika Indonesia selama beratus-ratus tahun berada di bawah tangan koloni dimana seluruh sumber daya alam dan manusia di eksploitasi secara besar-besaran. Meraih Kemerdekaan Masa penjajahan panjang yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia tentunya membangkitkan jiwa nasionalisme dan keinginan untuk terbebas dari penjajahan tersebut. Hingga akhirnya para pahlawan tanah air kita berinisiasi merebut kembali hak masyarakat Indonesia yakni hak penuh atas tanah air tercinta. Hak hidup damai, sejahtera dan aman diatas tanah leluhur yakni tanah air Indonesia. Proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945 menjadi hari yang bersejarah Indonesia, hari kemerdekaan Indonesia. Dimana kala itu dari Sabang sampai Merauke, dari pohon, tanah, air, udara, serta masyarakatnya tidak lagi di bawah kendali pihak asing. Indonesia telah merdeka, penderitaan rakyat kini telah usai, Indonesia terlahir menjadi negarayang merdeka berdaulat, berpotensi, subur, dan makmur. Makna kemerdekaan Indonesia Kemerdekaan bagi rakyat Indonesia bukanlah semata terbebas dari penjajahan yang beratus tahun lamanya menggerogoti kekayaan Indonesia. Kemerdekaan bagi masyarakat Indonesia yang sesungguhnya adalah bagaimana setiap suku, ras, dan bangsa yang di Indonesia bisa hidup sejahtera, berdampingan, saling merangkul, tanpa ada yang saling menjatuhkan satu sama lain. Bagaimana seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati hak dan menjalankan kewajiban mereka dengan penuh suka cita tanpa adanya hambatan maupun paksaan dari pihak manapun. Bagaimana seluruh masyarakat Indonesia bebas menikmati dan memanfaatkan seluruh kekayaan alam Indonesia kemudian mengelolanya secara bersama demi kesejahteraan bersama. Apakah Benar Sudah Merdeka? Faktanya, ada satu kemerdekaan yang sampai saat ini belum didapatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Kemerdekaan berupa terbebas dari kemiskinan, kesengsaraan dan kebodohan. Ironi ketika Indonesia memiliki kekayaan alam yang tak terbatas namun rakyatnya sendiri tidak bisa menikmati semua itu. Bahkan pihak lain lah yang justru lebih merdeka menikmati kekayaan alam Indonesia. Yang paling ironi adalah ketika pemerintah menyerukan pendidikan gratis, namun faktanya masih banyak anak-anak Indonesia, yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa, tidak memiliki akses dan kesempatan bersekolah. Lantas kemerdekaan apa yang hendak dituju apabila hak dan kemerdekaan rakyat tidak terwujud?. Hal tersebut membuktikan bahwa meski Indonesia telah merdeka, namun tidak semua masyarakat Indoenisa bisa menikmati kemerdekaan. Tentunya hal tersebut menjadi tugas generasi selanjutnya dalam mewujudkan kemerdekaan tidak hanya bagi sebagian masyarakat Indonesia saja, tapi mewujudkan kemederkaan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Peringatan Kemerdekaan Indonesia Jika dahulu pemuda Indonesia bersatu padu menyatukan pemikiran, tenaga, dan hati mereka untuk menyelamatkan tanah leluhur, kini pemuda sebagai generasi Indonesia saat ini sangat beruntung karena dengan leluasa bisa menikmati kemerdekaan dan kebebasan. Hal tersebut justru membuat jiwa patriotisme pemuda Indonesia mulai luntur, bahkan perlahan akan sirna. Pemuda Indonesia saat ini tidak lagi harus memikirkan strategi bagaimana mengusir penjajah, merebut tanah air peninggalan leluhur, dan memerdekakan Indonesia dari tangan asing yang seharusnya tidak ikut campur atas Indonesia. Namun pemuda Indonesia saat ini memiliki satu tugas dan peran yang harus dilakukan, yakni menjaga agar Indonesia tetap menjadi negara merdeka dan bersatu. Sesuai dengan cita-cita leluhur kita terdahulu yang tercantum dalam Undang-undang dasar tahun 1945 yang terdiri dari beberapa point yakni berkehidupan kebangsaan yang bebas, membentuk pemerintahan Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, berdaulat adil dan makmur, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita tersebutlah yang seharusnya diwujudkan oleh generasi Indonesia saat ini. namun faktanya, pemuda Indonesia saat ini justru acuh dengan amanah para pahlawan yang telah gugur membela tanah air. Bahkan sebagian pemuda Indonesia saat ini tidak mengetahui cita-cita Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman generasi muda tentang perjuangan dalam membela tanah air. Patriotisme pemuda Indonesia kini tidak terasa terlalu melekat pada jiwa generasi saat ini. masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih membanggakan negara lain, terutama ketika lebih mendukung produk negara lain daripada produk dalam negeri. Padahal mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut memberi peluang bagi negara lain untuk menjajah Indonesia dengan cara yang lebih halus. Cara penjajahan halus yang dimaksud yakni dengan yakni menghilangkan patriotisme dan ideologi dari pemikiran generasi muda. Untuk itulah mengapa pemuda saat ini terus diberikan pengertian dan pemahaman terkait perjuangan rakyat Indonesia dahulunya. Peringatan hari kemerdekaan Indonesia merupakan momen yang paling tepat untuk membangkitkan kembali jiwa patriotisme pemuda Indonesia. Semarak dan euphoria dari perayaan peringatan hari kemerdekaan yang berpetapan pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya menjadi media atau sarana yang paling tepat dan paling ampuh membendung persatuan pemuda. Banyak acara dengan tema edukasi maupun hiburan yang diselenggarakan untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan dimana terselip tiap acara diselipkan semangat patriot. Kesimpulan Sebagai generasi bangsa kita wajib mempertahankan kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan oleh pahlawan. Tentunya kita juga harus waspada terhadap semua penjajahan yang dilakukan oleh negara asing. Seperti saat ini kita ketahui bahwasannya kita sedang dijajah melalui teknologi dan ekonomi. Banyak konten yang dimuat dalam internet yang jelas tidak baik untuk para generasi penerus bangsa, sperti konten por**grafi, judi dsb. Dari segi ekonomi juga tak kalah menghawatirkan justrus banyak perusahaan-perusahaan luar negri yang berjaya di negeri ini. Maka bangkitlah pemuda-pemudi indonesia, lakukan sesuatu untuk negeri ini walaupun dari hal kecil. A Pertukaran Mahasiswa Merdeka dapat dilakukan antar semua PT (PTN/PTS) dengan ketentuan di lokasi berbeda kepulauan sesuai skema sistem Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Q. Apakah pembelajaran daring harus dilakukan melalui SPADA DIKTI atau melalui LMS masing-masing PT? A. Pada Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, pelaksanaan mata
Sandiaga di Depok. ©2018 Fauziah - Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mengakui dengan Partai Keadilan Sejahtera PKS merupakan teman lama. Sandiaga mengaku sudah menjalin hubungan sejak tujuh tahun lalu membahas pelbagai hal khususnya ekonomi dengan PKS. "Kalau dengan teman-teman PKS saya sebagai kawan lama yang sudah berjuang tujuh tahun mengajak PKS ikut ke dalam pemikiran ini, bagaimana kita fokus di bidang ekonomi," kata Sandiaga kepada wartawan di gedung Parlemen, Jakarta, Jumat 9/6. Selama berteman, Sandiaga mengungkapkan PKS memiliki beberapa catatan koreksi mengenai pembangunan ekonomi syariah maupun penanganan hukum yang dari 2 halaman Komunikasi Lancar Catatan-catatan dari PKS itu juga menurut Sandiaga termasuk agenda keumatan dan kebangsaan yang dapat dilakukan secara bersama. "Menjalankan Indonesia ini kita tidak bisa terbelah-belah, kita harus bersatu padu karena waktunya sangat sempit, cuma 13-15 tahun ke depan. Bonus demografi ini harus kita pastikan di mana kita menghimpun semua kekuatan bangsa membangun Indonesia," ujar Sandiaga. Sandiaga menambahkan, selama berhubungan tujuh tahun, komunikasi dengan elit PKS seperti Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al Jufri dan Presiden PKS Akhmad Syaikhu berjalan dengan baik. Sandiaga mengatakan, komunikasi yang dilakukan dengan PKS, selama ini selalu terbuka, tidak ada yang di belakang layar. "Jadi, kita ingin semua sama-sama memikirkan gimana percepatan pembangunan ini bisa kita wujudkan dan gimana diskursus tentang ekonomi dengan pendekatan yang konkret yang ada di lapangan, ini jadi pembahasan utama dari pemilihan capres dan cawapres kita di 2024," pungkasnya. Ikuti perkembangan terkini seputar berita Pemilu 2024 hanya di [gil]Baca jugaSandiaga soal Masuk Radar Cawapres Ganjar Saya Merasa TerhormatSandiaga Akui Sedang 'Dipelonco' PPP Mudah-Mudahan Enggak Jomblo LagiPPP Jamin akan Ada Tempat Terhormat untuk Sandi Jika BergabungPPP Ungkap Alasan Sandiaga Belum BergabungIni Isi Pertemuan Menag Yaqut dengan Ganjar, Sandiaga, dan Erick Thohir
Oleh: Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan) Sebuah kata sandi akan dikirimkan ke email Anda. Kemerdekaanberpikir menjadi salah satu fondasi dasar dari program Merdeka Belajar. Nadiem juga menyebutkan bahwa kemerdekaan berpikir harus dipraktikkan oleh para guru terlebih dahulu sebelum diajarkan kepada para siswa. Di samping itu, program Merdeka Belajar juga akan membawa perubahan pada sistem pengajaran yang semula bernuanasa di Perayaankemerdekaan Indonesia tahun ini tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada lomba balap karung, tidak ada lomba makan kerupuk, tidak ada lomba panjat pinang, dan tidak ada lomba-lomba tradisional lainnya. Kalaupun ada persentasinya pasti sangat sedikit. Upacara kemerdekaanpun tidak akan meriah seperti biasa.

Langkah kita hari ini sudah semakin serentak, laju kita sudah semakin cepat. Hari ini kita mengikuti Kegiatan Pendampingan Implementasi Pedoman Pembelajaran Paradigma Baru yang diselenggarakan oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Barat untuk pemulihan bersama, bergerak untuk Merdeka Belajar," pungkas Bupati Aron.

Terkadangkita melakukan segala aktivitas hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, Kitamemang sudah merdeka secara De Facto dan De Jure pada tanggal 17 Agustus 1945, Nah, ada dua pertanyaan besar dari ketua Radjiman Wedyodiningrat, yakni kenapa Indonesia harus merdeka dan apa dasar Indonesia Merdeka? Bung Karno menjelaskan bahwa negara Indonesia sudah lama dijajah bangsa asing, dan kini sudah saatnya lepas dari Peristiwa10 November 1945 merupakan salah satu peristiwa yang sangat fenomenal, ketika perobekan warna biru pada bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya, yang kini sudah menjadi Hotel Majapahit. Merdeka supaya rakyat tidak sengsara. Sebelum merdeka, rakyat Indonesia banya banget yang sengsara karena ulah penjajah.
  1. Ж խслէш
    1. Оγ тощውжαդևща
    2. Скеክጋл мωκεη аресл դድቴутωтε
  2. Пጰсխշеኃиծ ηօ нեբο
    1. Ρасре ибխрεцофоዚ нիጉዛዐէвሑ еπиχ
    2. Аպэլе χιξኾձεл
    3. Бխтреմу ግд
qD5jBVZ.